Blog Posts

Merayakan Sebuah Pengekangan: Tentang Bumi disaat Pandemi

Merayakan Sebuah Pengekangan: Tentang Bumi disaat Pandemi

Tidak bisa dinafikan bahwa dampak krisis iklim sudah dirasakan oleh seluruh masyarakat di dunia. Krisis iklim disebabkan oleh perubahan iklim baik secara alamiah atau faktor alam dan dapat pula disebabkan oleh aktivitas manusia melalui pemanasan global. Pemanasan global sendiri merupakan naiknya suhu bumi dalam jangka waktu yang lama –  disebabkan gas rumah kaca yang terjebak di stratosfer sehingga menangkap panas – yang berdampak terhadap kenaikan suhu permukaan bumi. Aktivitas manusia untuk keperluan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan yang menyebabkan bertambahnya Gas Rumah Kaca (GRK) di udara sehingga fungsi utama GRK yang tadinya menghangatkan permukaan bumi, sifatnya malah menjadi destruktif. Salah satu dampak langsung yang dapat kita rasakan adalah perubahan kualitas udara.

Sejalan dengan pertumbuhan kota dan industri, menyebabkan turunnya kualitas udara akibat perubahan tersebut. Kualitas udara yang awalnya bersih dan segar, menjadi kering dan kotor akibat dari pencemaran udara yang disebabkan oleh asap pabrik serta transportasi yang menghasilkan emisi. Gas buang atau emisi didefinisikan sebagai hasil pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, gas alam dan minyak yang didispersikan ke udara, tergantung pada komposisi bahan bakar serta jenis dan ukuran boiler. Di Indonesia sendiri, per September 2019, Jakarta menjadi kota dengan kualitas udara terburuk dibandingkan kota-kota utama lainnya di dunia. Berdasarkan data dari AirVisual.com pada pukul 08.14. Indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta saat ini mencapai angka 174 atau berada pada level tidak sehat. Akan tetapi keadaan berubah setelah Pandemi Covid-19 menyerang dunia.

 

  1. Turunnya Kadar Polusi Udara di Dunia

 

Pandemi Covid-19 menyebar melalui droplet atau tetesan cair dari pengidap penyakit ini. Oleh karena itu, cara paling efektif untuk mencegah virus ini masuk ke tubuh adalah dengan membatasi aktivitas diluar rumah untuk mencegah kejadian tidak diinginkan dimana orang yang sehat tertular lewat interaksi secara tidak sengaja dengan orang yang sakit. Alhasil, Pemerintah Indonesia menganjurkan metode pembatasan jarak sosial (social distancing) hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi dampak virus Covid-19. Efeknya, aktivitas manusia diluar rumah menjadi berkurang drastis. Penurunan aktivitas ini juga sejalan dengan penurunan penggunaan kendaraan bermotor hingga penurunan aktivitas produksi di pabrik-pabrik.

Covid-19 telah membuat kualitas udara dan lingkungan global membaik. Akibat pandemi Covid-19, telah mendorong roda ekonomi global hampir berhenti sehingga keadaan ekonomi dibelahan dunia melemah. Lebih lanjut lagi, tutupnya pabrik-pabrik dan kendaraan yang tak terpakai membuat kadar polusi udara di dunia, terutama pada kota-kota besar menurun. Beijing, ibu kota China yang sangat dikenal dengan tingkat polusinya yang sangat tinggi sampai mencekik paru-paru, belakangan memiliki langit biru yang cerah akibat tutupnya pabrik-pabrik yang menghentikan produksinya.

Selain itu, di New York, Amerika menunjukan bahwa tingkat lalu lintas pada kota tersebut diperkirakan turun 35% dibanding tahun lalu. Emisi karbon monoksida, terutama yang dikeluarkan oleh truk dan kendaraan besar, menurun 50% selama beberapa minggu. Data tersebut diperkuat oleh citra satelit NASA melaporkan adanya penurunan jumlah polusi udara di sejumlah negara. Di China misalnya, dari data yang dikumpulkan oleh satelit Sentinel-5 ESA menunjukkan penurunan nitrogen dioksida yang signifikan. Gas yang sebagian besar dihasilkan mobil, truk, pembangkit listrik, dan sejumlah pabrik itu lenyap saat dilihat pada 20-25 Februari 2020. Akan tetapi, beberapa ilmuwan berpendapat bahwa pandemi global ini takkan mampu mengembalikan manfaat lingkungan, terutama perihal penekanan perubahan iklim.

Figure 1. Penurunan Polusi Udara di China, NASA 2020

  1. Dampak Pandemi Terhadap Lingkungan

Selain kadar polusi udara yang turun, pandemi ini juga secara langsung berdampak terhadap kondisi di Bumi. Menurut Mohammad Darvish, seorang anggota dari Dewan Keamanan Nasional untuk Lingkungan, bumi sedang merayakan kondisi terbaiknya dalam setengah abad. Sejak awal 2020, untuk pertama kalinya berturut-turut, emisi gas rumah kaca serta konsumsi bahan bakar fosil telah menurun. Yang menarik adalah bagaimana kehidupan satwa liar meningkat akibat pandemi ini.

Lebih lanjut, terlihatnya lumba-lumba di Venesia, Italia serta banyaknya satwa liar yang masuk kepemukiman penduduk, merupakan bukti bahwa wabah ini cukup berdampak kepada kehidupan satwa liar. Kadar polusi udara yang turun serta kemunculan satwa liar diruang publik membuat krisis iklim terabaikan sementara. Akan tetapi faktanya, sampah plastik terus meningkat dikala pandemi. Selain dari konsumsi masyarakat, penggunaan plastik sekali pakai dari peralatan medis, seperti sarung tangan hingga kemasan plastik lainnya menambah jumlah limbah plastik saat ini. Tidak dapat dipungkiri, kekhawatiran mengenai kondisi bumi akan kembali seperti sebelumnya. Dan bahkan, kegiatan produksi dapat meningkat berkali-kali lipat untuk mengejar ketertinggalan saat pandemi. Founder Sustaination, Dwi Sasetyaningtyas atau biasa dipanggil Tyas ini menyebut situasi yang terjadi saat ini mungkin bisa dijadikan pelajaran. “Bahwasanya, jika kita mampu menjaga Bumi dan tidak serakah, maka alam pun akan memberikan hasil yang baik, seperti udara segar misalnya” Terang Tyas.. 

Figure 2. Rusa berlarian di jalan kota karena kondisi jalan yang sepi, Japandaily.com 2020

  1. Keadaan Indonesia Sekarang

Sama dengan negara lain di dunia yang mengalami penurunan polusi di negaranya, Indonesia juga mengalami hal yang sama. Di Jakarta sendiri, berdasarkan laporan dari UNEP (United Nations Environment Programme) menyatakan bahwa udara di Jakarta saat ini merupakan kualitas udara terbaik selama 28 tahun. PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dinilai merupakan faktor yang mengakibatkan udara di Jakarta membaik. Pada 10 hari pertama PSBB dilaksanakan, Kualitas Udara di Jakarta masih berada pada kategori Tidak Sehat dengan nilai PM 2,5 rata-rata 44,55 µg/m3. Namun, setelah memasuki 10 hari kedua pelaksaan PSBB di Ibukota, Kualitas udara di Jakarta membaik secara drastis menjadi kategori baik dengan PM 2,5 rata-rata sebesar 18,46 µg/m3. Hal ini menunjukkan respon positif dari lingkungan terhadap kebijakan dari pemerintah terhadap penangganan pandemi Covid-19 ini.

Mengikuti peningkatan kulitas udara di Jakarta, penerapan PSBB di kota lain di Indonesia pun mulai memberikan dampak positif kepada kualitas udara di kota tersebut. Seperti di Bandung, berdasarkan pemantauan DLHK Kota Bandung, kualitas udara di Bandung menunjukkan kualitas udara paling tinggi di level sedang dengan nilai ISPU 51 – 100. Begitu pula dengan kota Surabaya yang telah memasuki kualitas udara dengan kategori baik berdasarkan pemantauan dari DLH Kota Surabaya. Tidak hanya terjadi di kota- kota besar, pengaruh dari PSBB di pulau dan kota lain di Indonesia menyebabkan dampak positif kepada lingkungan dan penduduk Indonesia. 

Tidak dapat dipungkiri, meningkatnya kualitas udara di Indonesia terjadi karena diberlakukannya PSBB secara Nasional. Memang dengan meningkatnya kualitas udara berpengaruh baik kepada penduduk. Namun, bagaimana bisa tingkat udara yang membaik diluar tidak dapat di nikmati oleh penduduk karena kebanyakan aktivitas dilakukan di rumah. Sudah seharusnya peningkatan kualitas udara di Indonesia terus dipertahankan sampai pasca-pandemi Covid-19 dan seterusnya.

Figure 3. Kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat yang sepi dan lenggang pada masa PSBB, Mongabay Indonesa, 2020

 

  1. Hal yang Dapat Dilakukan Terkait Turunnya Emisi

Polusi di Indonesia memrupakan masalah yang sudah lama terjadi dan terus diwarisi dari generasi ke generasi. Tahun ini, tingkat polusi mengalami penurunan terbesar dalam dua dekade ini karena PSBB yang di lakukan berhungan dengan penanggulangan pandemi Covid-19.  Namun, tentu kita ingin agar kualitas udara baik terus bertahan sampai setelah pandemi selesai sehingga kita dapat beraktivitas dengan normal dengan udara bersih. Polusi di Indonesia mayoritas berasal dari pembuangan produksi energi. Hingga saat ini, 61% dari kebutuhan energi nasional Indonesia, bergantung kepada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara dengan total 28 PLTU batubara yang tersebar di Indonesia. Padahal, PLTU batu bara termasuk salah satu polutan terbesar, sebesar 11% dari emisi nasional. Indonesia pada Paris Agreement di tahun 2015 diharapkan dapat memenuhi target menurunkan  emisi sebesar 29% dari BAU (Business as Usual) sesuai dengan First Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia.

Figure 4. Posisi Indonesia di antara negara di dunia mengenai pemenuhan NDC

Mengingat starting point dari implementasi NDC dimulai pada tahun 2020. Maka pemerintah membuat komitmen untuk sektor energi salah satunya 23% energi baru terbarukan (EBT) dari Bauran Energi Primer. Namun, bila melihat data dari awal decade ini, target ambisius tersebut sepertinya akan sulit mengingat beberapa kebijkan negara yang bertolak belakang dengan target tersebut. (Grafik 1) Seperti rencana pembangunan 3 PLTU Batu Bara baru untuk pemenuhan kebutuhan Energi Nasional

Figure 5 Proyek Kapasitas PLT EBT (MW) Sampai Tahun 2025. Diolah

Sudah seharusnya Pemerintah berfokus untuk menambah daya dari Energi Baru Terbarukan. Untuk mengejar target EBT dan NDC, banyak PR yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Bila target untuk NDC dapat terpenuhi, maka tidak hanya kenaikan suhu yang memengaruhi perubahan iklim yang dapat di hambat. Namun, masyarakat Indonesia pun mendapat hak mereka berupa menghirup udara bersih bebas polusi. Bukan udara besih yang ada karena semua masyarakat di rumah. Oleh karena itu, kita harus mengawal kebijakan di sektor energi untuk kebaikan tidak hanya diri sendiri, akan tetapi juga lingkungan. Selamat Hari Bumi, 22 April 2020.

 

“Bumi Ku Sayang, Bumi Ku Malang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
Instagram